Jurnal Isnani Murti

Jurnal Kuliner dan Pengobatan Tradisional

UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LINGKUNGAN

Posted by Isnani Murti on June 17, 2008

ARDHILES WIDIANTA DAN WIDI PRIMA DEVA

SMA Negeri 6 Bengkulu 

 

BAB I: PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ubi kayu atau singkong (Mannihot esculenta) berasal dari Brazil, Amerika Selatan, menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubi kayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubi kayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar 60%, pati 25-35%, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum.

Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan glukoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, baru difermentasi menjadi etanol.

Sejak lima tahun terakhir Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional yang disebabkan menurunnya secara alamiah (natural decline) cadangan minyak pada sumur-sumur yang berproduksi. Di lain pihak, pertambahan jumlah penduduk telah meningkatkan kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas industri yang berakibat pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Untuk memenuhi kebutuhan BBM tersebut, pemerintah mengimpor sebagian BBM. Menurut Ditjen Migas, impor BBM terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 106,9 juta barrel pada 2002 menjadi 116,2 juta barrel pada 2003 dan 154,4 juta barrel pada 2004. Dilihat dari jenis BBM yang diimpor, minyak solar (ADO) merupakan volume impor terbesar setiap tahunnya. Pada 2002, impor BBM jenis ini mencapai 60,6 juta barrel atau 56,7 % dari total, kemudian meningkat menjadi 61,1 juta barrel pada 2003 dan 77,6 juta barrel pada 2004.

Untuk mencukupi kebutuhan pabrik komersial bioetanol yang merupakan bahan baku utama gasohol (bahan bakar campuran bensin dan etanol) B2TPBBPT saat ini memiliki fasilitas pengkajian dan pengembangan produksi bioetanol menggunakan bahan baku berpati. Agar produksi bioetanol dapat terus meningkat, Departemen Pertanian harus bersikap proaktif, yakni mendorong para petani untuk menggenjot produksi aneka bahan baku, termasuk ubi kayu, ubi jalar,sagu, dan tebu. Pengembangan gasohol perlu dikembangkan, karena bukan hanya dapat mengurangi konsumsi bensin, melainkan juga berdampak pada emisi gas buang kendaraan yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Beberapa negara yang sudah mulai menggunakan gasohol berbasis alkohol nabati adalah Amerika Serikat, Swedia, Perancis, Brasil, dan India. Mulai sekarang Indonesia harus mengembangkan gasohol. Apalagi, sumber daya hayati berkarbohidrat yang kita miliki sangat berlimpah.

            Disisi lain, kendaraan yang beroperasi di Indonesia kebanyakan berbahan bakar bensin dan solar yang berasal dari energi fosil. Menurut Nuralamsyah (2005), konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan konsumsi BBM selama tahun 2004 mencapai 61,7 juta kiloliter, dengan rincian 26,9 juta kiloliter minyak solar, 16,2 juta kiloliter premium, 11,7 juta kiloliter minyak tanah, 5,7 juta kiloliter minyak bakar, dan 1,1 juta kiloliter minyak diesel. Padahal kemampuan produksi bahan bakar minyak di dalam negeri hanya sekitar 44,8 juta kiloliter, sehingga sebahagian kebutuhan bahan bakar di dalam negeri harus diimpor. Setiap bulan, impor minyak mentah dan BBM mencapai 1,5 Milyar dollar AS atau sekitar 15 Triliyun rupiah.

            Cadangan energi fosil kita semakin hari semakin berkurang, sedangkan kebutuhannya terus meningkat. Fakta ini membuka peluang penggunaan energi terbarukan seperti biodiesel dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Selain semakin menipisnya jumlah cadangan bahan bakar fosil, alasan penting lain untuk mengurangi penggunaannya adalah masalah kerusakan lingkungan, harga yang terus melambung, dan beban subsidi yang semakin besar.  

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah cara mengolah ubi kayu menjadi bioetanol?
  2. Bagaimana prospek pengembangan bioetanol dari ubi kayu
  3. Bagaimana potensi pengembangan ubi kayu di Provinsi Bengkulu?

 

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui cara mengolah ubi kayu menjadi bioetanol.
  2. Mengetahui prospek pengembangan bioetano bioetanol.dari ubi kayu
  3. Mengetahui potensi pengembangan bioetanol dari ubi kayu di provinsi Bengkulu.

 

1.4  Manfaat Penulisan

  1. Memberikan informasi kepada masyarakat di provinsi Bengkulu bahwa ubi kayu dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol sebagai bahan bakar alternatif pengganti premium.
  2. Memberikan informasi dan gambaran mengenai prospek pengembangan bioetanol dari ubi kayu di provinsi Bengkulu.
  3. Memberikan gambaran mengenai peluang usaha untuk mengolah ubi kayu menjadi bioetanol.

 

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

1.1       Ubi Kayu (Mannihot esculenta)

Ubi kayu (Mannihot esculenta) termaasuk tumbuhan berbatang pohon lunak atau getas (mudah patah). Ubi kayu berbatang bulat dan bergerigi yang terjadi dari bekas pangkal tangkai daun, bagian tengahnya bergabus dan termasuk tumbuhan yang tinggi. Ubi kayu bisa mencapai ketinggian 1-4 meter. Pemeliharaannya mudah dan produktif. Ubi kayu dapat tumbuh subur di daerah yang berketinggian 1200 meter di atas permukaan air laut. Daun ubi kayu memiliki tangkai panjang dan helaian daunnya menyerupai telapak tangan, dan tiap tangkai mempunyai daun sekitar 3-8 lembar. Tangkai daun tersebut berwarna kuning, hijau atau merah.

Ubi kayu dikenal dengan nama Cassava (Inggris), Kasapen, sampeu, kowi dangdeur (Sunda); Ubi kayu, singkong, ketela pohon (Indonesia); Pohon, bodin, ketela bodin, tela jendral, tela kaspo (Jawa).

Ubi kayu mempunyai komposisi kandungan kimia ( per 100 gram ) antara lain : – Kalori 146 kal – Protein 1,2 gram – Lemak 0,3 gram – Hidrat arang 34,7 gram – Kalsium 33 mg – Fosfor 40 mg – Zat besi 0,7 mg Buah ubi kayu mengandung ( per 100 gram ) : – Vitamin B1 0,06 mg – Vitamin C 30 mg – dan 75 % bagian buah dapat dimakan. Daun ubi kayu mengandung ( per 100 gram ) : – Vitamin A 11000 SI – Vitamin C 275 mg – Vitamin B1 0,12 mg – Kalsium 165 mg – Kalori 73 kal – Fosfor 54 mg – Protein 6,8 gram – Lemak 1,2 gram – Hidrat arang 13 gram – Zat besi 2 mg – dan 87 % bagian daun dapat dimakan. Kulit batang ubi kayu mengandung tanin, enzim peroksidase, glikosida dan kalsium oksalat.

   Secara taksonomi ubi kayu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kerajaan : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Malpighiales

Suku : Euphorbiaceae

Subsuku : Crotonoideae

Tribe : Manihoteae

Marga : Mannihot

Spesies : M. esculenta

 

            Fungsi singkong (ubi kayu) sudah mulai bergeser, dari penyediaan bahan pangan, berpotensi menjadi bahan baku untuk pengembangan bio-ethanol. Kebutuhan bio-ethanol sampai dengan 2010 tergolong cukup tinggi, yaitu mencapai 1,8 juta kilo liter. Demikian yang dilaporkan Mingguan AgroIndonesia, dalam seminar di Puslitbang Tanaman Pangan Bogor.

Dalam seminar yang berjudul “Skenario Pengembangan Ubi Kayu Mendukung Program Pengembangan Energei Alternatif Bersumber dari Bio-Ethanol”, J. Wargiono mengatakan bahwa untuk mendukung program tersebut perlu “menggenjot” produksi ubi kayu secara nasional hingga 15%. Lebih lanjut mengatakan bahwa besarnya kebutuhan industri agar pasokannya bahan bakunya aman, memang sudah dihitung. Selain itu tidak semua propinsi wajib mengembangkan dan mengikuti skenario ini. Jika daerah-daerah tersebut terdapat daerah kantung-kantung kemiskinan dan kelaparan, prioritas utama untuk mendukung penyediaan bahan pangan.

 

1.2       Pati ataun Amilum

Pati atau amilum (CAS# 9005-25-8) adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting.

Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan.

Dalam bahasa sehari-hari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah “pati” kerap dicampuradukkan dengan “tepung” serta “kanji”. “Pati” (bahasa Inggris starch) adalah penyusun (utama) tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung pati, karena ter-/dicampur dengan protein, pengawet, dan sebagainya. Tepung beras mengandung pati beras, protein, vitamin, dan lain-lain bahan yang terkandung pada butir beras. Orang bisa juga mendapatkan tepung yang merupakan campuran dua atau lebih pati. Kata ‘tepung lebih berkaitan dengan komoditas ekonomis. Kerancuan penyebutan pati dengan kanji tampaknya terjadi karena penerjemahan. Kata ‘to starch’ dari bahasa Inggris memang berarti ‘menganji’ (‘memberi kanji’) dalam bahasa Melayu/Indonesia, karena yang digunakan memang tepung kanji.

Pati digunakan sebagai bahan yang digunakan untuk memekatkan makanan cair seperti sup dan sebagainya. Dalam industri, pati dipakai sebagai komponen perekat, campuran kertas dan tekstil, dan pada industri kosmetika.

 

2.3       Bioetanol

Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif gasohol yang merupakan campuran antara bensin dan bioetanol. Adapun manfaat pemakaian gasohol di Indonesia yaitu : memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair, mengurangi impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, meningkatkan kesempatan kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu dan antar daerah, meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara (bahan bakar ramah lingkungan) dan berpotensi mendorong ekspor komoditi baru. Bioetanol tersebut bersumber dari karbohidrat yang potensial sebagai bahan baku seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan tebu. Adapun konversi biomasa tanaman tersebut menjadi bioethanol adalah seperti pada tabel dibawah ini.

 

Tabel  Konversi biomasa menjadi bioetanol

Biomassa

Jumlah biomassa (kg)

Kandungan gula (kg)

Jumlah hasil bioetanol (liter)

Biomassa : Bioetanol

Ubi Kayu

1.000

250-300

166,6

6,5 : 1

Ubi Jalar

1.000

150-200

125

8 : 1

Jagung

1.000

600-700

400

2,5 : 1

Sagu

1.000

120-160

90

12:1

Tetes

1.000

500

250

4:1

Sumber data : Balai Besar Teknologi Pati-BPPT,2006

 

2.4     Bensin

            Bensin adalah salah satu jenis bahan bakar minyak yang dimaksudkan untuk kendaraan bermotor. Bensin tersedia atas tiga jenis yaitu premium, pertamax, dan pertamax plus. Ketiganya mempunyai mutu yang berbeda. Mutu bahan bakar bensin dikaitkan dengan jumlah ketukan (knocking) yang ditimbulkannya dan dinyatakan dengan nilai oktan. Makin sedikit ketukan makin baik mutu bensin, makintinggi nilai oktannya.

            Untuk menentukan nilai oktan, ditetapkan dua jenis senyawa sebagai pembanding yaitu “isooktana”dan n-heptana. Isooktana menghasilkan ketukan paling sedikit, diberi nilai oktan 100, sedangkan n-heptana menghasilkan ketukan paling banyak, diberi nilai oktan 0 (nol). Suatu campuran yang terdiri dari 80% iso oktana dan 20% n-heptana mempunyai nilai oktan sebesar (80/100 x 100) + (20/100 x 0) = 80.

            Secara umum, alkana rantai bercabang mempunyai nilai oktan lebih tinggi dari pada isomer rantai lurusnya.

            Pertamax hanya terdiri atas senyawa isooktana dan n-heptana, melainkan mutunya atau jumlah ketukan yang dibutuhkan setara dengan campuran isooktana dan n-heptana. Premium mempunyai nilai oktan 88 dan pertamax plus mempunyai nilai oktan 95. Nilai oktan bensin harus dinaikan sebelum dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Hal ini dapat dilakukan dengan reforming atau menambahkan zat anti ketukan. Reforming adalah suatu proses untuk mengubah alkana rantai lurus menjadi rantai bercabang, dengan demikian akan menaikan nilai oktan.

            Salah satu zat anti ketukan yang hingga kini masih digunakan dinegara kita adalah Tetraethyl Lead (TEL). Zat ini dapat menaikan nilai oktan 15 poin, tetapi dapat menghasilkan timbal hitam bersama asap kendaraan yang akan menempel pada komponen mesin. Untuk mencegah supaya timbal hitam tersebut tidak menempel pada komponen mesin dicampurkan pula etilen bromida, C2H4Br2. Tetapi hal ini justru menghasilkan timbal bromida yang keluar bersama asap kendaraan, yang mana senyawa ini sangat beracun yang dapat merusak otak. Dan pada akhirnya senyawa etilen bromida sekarang diganti menjadi methyl tertiary buthyl ether (MTBE)

 

BAB III: METODOLOGI PENULISAN

3.1       Metode Penulisan

Karya tulis ini ditulis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni suatu metode yang menggambarkan suatu fenomena secara sistematis, dengan hasil yang dinyatakan bukan dalam bentuk angka (non statistik).

 

3.2       Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam proses penulisan karya tulis ilmiah ini adalah melalui studi literatur (literature reseach). Penulis melakukan telaah pustaka yang berupa buku-buku teks, jurnal-jurnal ilmiah, artikel-artikel di internet, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan rumusan masalah yang akan dibahas.

 

3.3       Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan pada penulisan karya tulis ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif, dimana analisa deskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data ke dalam bentuk penyajian yang sesuai.

 

3.4       Sistematika Penulisan

Penulisan karya tulis ilmiah ini menggunakan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metodologi penulisan, Bab IV Pembahasan, dan Bab V Penutup.

 

BAB IV:  PEMBAHASAN

4.1 Cara mengolah ubi Kayu menjadi Bioetanol

125 kg singkong segar dikupas, semua jenis dapat dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil. Singkong yang telah dicacah dikeringkan hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless steel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100 oC selama 0,5 jam.

Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam tangki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong, perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebelum digunakan, Aspergillus dikulturkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati.

Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17-18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces untuk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebih tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob (tidak membutuhkan oksigen). Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28-32 oC dan pH 4,5-5,5. Setelah 2-3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6-12 % etanol.

Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein. Meski telah disaring, etanol masih bercampur air. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78 oC atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100 oC. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larut, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100 oC. Pada suhu itu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dicampur dengan bensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120-130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek.

 

4.2Prospek Pengembangan Bioetanol dari Ubi Kayu di Provinsi Bengkulu

Petunjuk pelaksanaan pengembangan energi alternatif secara detail sudah diatur dalam dokumen Pengelolaan Energi Nasional (PEN). Didalamnya disebutkan mengenai rencana (roadmap) pengembangan seluruh jenis energi alternatif. Dalam waktu dekat, pemerintah juga akan menerbitkan Inpres tentang biofuel (biodisel dan bioetanol) yang akan merinci insentif bagi pengembangan biofuel, termasuk instruksi kepada menteri-menteri untuk menindaklanjuti di departemen masing – masing.

Pengembangan perkebunan energi akan memberikan dampak bagi penghematan sumber energi tak terbarukan, meningkatkan ketahanan energi nasional dan berkurangnya biaya kesehatan akibat pencemaran udara serta akan membuka peluang usaha bagi masyarakat, di samping tujuan utamanya untuk mereklamasi lahan kritis yang ada.

Untuk menjaga keseimbangan lingkungan (bioferacy), variasi komposisi jenis tanaman sangat dimungkinkan. Namun tetap harus diperhatikan jenis tanaman yang akan dipilih, sehingga diharapkan mampu mengangkat harkat plasma nutfah dari endemik Babel ke taraf yang lebih tinggi.
           Dengan diterbitkannya tujuh izin investasi pembangunan pabrik energi alternatif (biodiesel dan bioetanol) oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada pertengahan tahun 2005 yang lalu, memperkuat indikasi bahwa peluang bisnis di bidang bioenergi sudah dilirik para investor, sehingga pengembangan perkebunan energi menjadi sesuatu yang prospektif di masa depan (Agustus 2007).

 

4.3Potensi Ubi Kayu di Provinsi Bengkulu

Potensi ubi kayu di Bengkulu cukup besar dengan luas panen (Ha) 7,186, produksi  (ton) 81,391, dan hasil/Ha (ton/Ha) 11,30. Ini membuktikan bahwa masyarakat Bengkulu bisa tak tergantung kepada penggunaan bahan bakar bensin. Karena Ubi kayu tidak susah untuk dikembangkan mengingat cara menanamnya yang mudah dan simple. Jadi potensi pembuatan bioetanol ini sangat besar di provinsi Bengkulu sebab, Provinsi Bengkulu memiliki luas 1.978.870 Ha, dengan sebagian besar daerah yang belum dikelola dengan baik. Jika program bioetanol ini memang betul – betul diperhatikan pemerintah daerah maka, Bengkulu akan jadi pensuply bahan baku bioetanol tersebut.

 

BAB V: PENUTUP

1.1       Simpulan

  1. .Tanaman Ubi Kayu (manihot esculenta) dapat digunakan sebagai bahan       penghasil bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
  2. .Tanaman Ubi Kayu memiliki prospek yang sangat bagus di Provinsi Bengkulu

1.2       Saran

  1. Agar alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan ini dapat direalisasikan di Provinsi Bengkulu, mengingat prospek yang ada cukup baik.
  2. Pemerintah sebaiknya mendukung upaya-upaya yang dilakukan untuk menciptakan program tersebut.
  3. Agar masyarakat dapat mengetahui bahwa tidak selamanya mereka dapat menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil, mengingat jumlahnya yang kian hari makin berkurang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Prospek Pertanian Biodiesel dan Bioetanol. http://www.bppt.go.id/

Anonim. 2007. Bioetanol. http://www.energiterbarukan.net/

Anonim. 2007. Ketika Kendaraan Bergantung pada Tumbuhan. http://www.trubus-online.com/

Fitriani, Vina. 2007. Makanan Lezat “Makhluk” Bermesin. http://www.trubus-online.com/

Martono, Budi dan Sasongko. 2005. Prospek Pengembangan Ubi Kayu sebagai Bahan Baku Bioetanol di Provinsi DIY. http://202.169.224.75/detail.php?

Nuralamsyah, Andi. 2005. Biodiesel Jarak Pagar. PT AgroMedia Pustaka. Bogor.

Purwati, Ani. 2006. Singkong Berpotensi Jadi Bahan Baku Energi.  http://www.beritabumi.or.id/

Wijuna, Imam. 2007. Mengebor Bensin di Kebun Singkong. http://www.trubus-online.com/

About these ads

64 Responses to “UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LINGKUNGAN”

  1. 486174124b said

    486174124b…

    486174124b…

  2. ratna sari said

    kalau tengatng amodifiaksi pati sagu apakah ada jurnalnya??? mohon infonya ya

  3. isnanimurti said

    sejauh ini saya belum tahu, tapi akan saya cari info itu

  4. sukarno said

    saya seorang pebisnis mau cari ubi kayu yang telah di olah menjadi gaple untuk di export ke jepang minimal per bulan 10 ton – 40 ton.
    yang bertminat dengan bisnis ini harap hubungi

    081270033097
    Bpk .Sukarno

  5. isnanimurti said

    Terima kasih atas infonya. Ternyata ubi kayu sudah diekspor ke Jepang. Saya coba informasinya ke petani di kota saya agar mereka menanam ubi kayu.

  6. refnedi said

    Dari pada biodisel dari kelapa sawit lebih baik kita optimalkan penggunaan ubi kayu sebagai bahan bakar non fosil lebih cepat tidak perlu 4-6 tahun baru berproduksi…..tul khan

  7. isnanimurti said

    Ya, saya setuju. Sebab penggunaan kelapa sawit membuat minyak goreng jadi mahal, padahal ada bahan baku yang lebih murah, mudah budidayanya, dan cepat panennya yaitu ubi kayu.thanks

  8. Tjipto J said

    Saya berminat untuk mengembangkan Bio Ethanol dari Singkong, saat ini saya mempunyai lahan sekitar 40 Ha, kira2 bagaimana cara mainnya ?
    Mohon informasi lebih lanjut, dan marketnya ke negara mana saja ?
    Thx

  9. sutrisno jayadiningrat said

    hai there,
    saya setuju aja dengan proposal u, terlebih potensi daerah2 di Indonesia tidak semua bisa ditanami tanaman seperti tanaman padi, jagung,dll. apalagi singkong selain bisa digunakan sebagai energi alternatif juga bisa digunakan untuk membuat gula. pokoknya aku setuju banget kalau misalnya ketela pohon itu dikembangkan dan dimanfaatkan lebih dari sekedar tepung. sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para kelompok tani di daerah2 yang sulit untuk ditanami tanaman pangan karena kekurangan air, dll. good luck &n thanks b4.

  10. allek said

    pak soekarno daerah saya ban7yak sekali ubi maklum daerah pegunungan dr pacet mojokerto jatim oke tank s

  11. Saya Danan, 29 Th,
    saya seorang pengusaha muda (UKM)
    Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.

    modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.

    hari ini saya membaca berita dari liputan enam (14 oktober 2008) tentang kayu sebagai bahan bakar alternatif ungulan, saya antara antara mendukung dan menolak pendapat ini. Mendukung karena mungkin menciptakan lapangan kerja baru, menolak karena sebetulnya ada yang lain selain kayu yang juga ungulan yang mungkin tidk merusak ekosistem alam akibat penebangan kayu yang berlebihan. bahan bakar dari produk yang kami buat adalah dari sekam, serbuk kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, serabut kelapa, jerami kering bahkan daun kering. coba dibandingkan, lebih baik mana dibandingkan dengan kayu.

    saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai kami pengaruhi sedikit demi sedikit untuk meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.

    cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
    Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
    yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi

    Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat

    untuk informasi keseriuasan kami bisa diperoleh dari
    http://www.santosorising.com

    Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan

    Terimakasih

    Danan Eko Cahyono, ST

  12. Albert said

    Saya minta tolong informasi tentang ubikayu. Kita tahu bahwa kandungan pati dalam singkong itu yg digunakan sebagai bahan utk bioethanol. Pertanyaan: Bagaimana cara untuk meningkatkan kadar pati dalam singkong?? karena selama ini cuma sekitar 20%-35% saja kandungannya.
    Mungkin bibit atau pupuk apa yg bisa dipakai?? dan beli dimana?? terima kasih..

  13. slereEmible said

    Hi!
    My name is Jessika!

  14. dewi said

    thank you

  15. sindhu said

    saya tertarik dengan usahanya bapak sukarno, klo memang membutuhkan, insyaallah kami bisa mengusahakan, karena dikalbar khususnya kab.bengkayang tanaman ubi kayu begitu banyak dan subur ( 081345648669 )

  16. vinta said

    Thank you for your information…….May I get it? Soalnya aku punya tugas nih ! Pusing! But Thank’s for your help….

  17. aditya said

    apakah ada literatur ttg mesin bioetanol? Di kampung saya di NTB banyak sekali ubi kayu yg ditanam oleh penduduk namun kami blm dapat memanfaatkan dg baik. Di toko buku sdh ada bbrp bahan ttg bioetanol itu sendiri, namun saya kesulitan utk mencari bahan sbg bahan praktek pembuatan minyak Bioetanolnya terutama info ttg mesinnya.

  18. Rina said

    gimana cara tumbuh pohon singkong yang cepat panen dan hasilnya yang memuaskan, serta jauh dari peredator, tk

  19. kwik said

    asw
    thx banget bwt studi kasusnya,,
    jd bisa bwt tugas praktikum biokim ^^

  20. marelisa said

    isnanimurti salam kenal ni… aku juga sangat tertarik untuk ikut mengembangkan pohon singkong.. majukan terus pertanian di propinsi Bengkulu.

  21. PT Radya Pustaka said

    Kami Penerbit Nasional PT Radya Pustaka, kami mencari orang yang mampu mensintesis alkohol dari singkong/ketela/tebu untuk kami terbitkan bukunya, jika mampu, harap menghubungi kami di andre_kit@yahoo.co.id atau sms di 081802480606
    design cover dan royalti dibicarakan setelahnaskah diseleksi dan layak terbit

  22. prangin said

    program ini sangat bagus untuk menjadikan kita mandiri termasuk tehnology tapi sesuatu yg tidak dari barat dan tidak padat investasi pasti implementasinya tidak didukung oleh pemerintah

  23. Mm..m..
    Ubi kayu ya..
    Knapa gak klapa sawit aja yg di jdkn BBM, sdangkn 60% pulau sumatra petani sawit,
    pasti bangsa untung tuh.. + para rakyatnya pada makmur..

  24. jelek said

    ok juga tuch

  25. [...] Bioethanol By iimkurniawan UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LING… [...]

  26. andar putra soebatik said

    sekarng nie marak2nya pembicaraan tentang no-Beras atau penganti beras jadi apa bagus ubi kayu di jadikan sebagai penganti beras,di masa akan datang “tenks’

  27. rizki said

    asyik juga….bisa di jadikan materi pembelajaran

  28. aris said

    Bagus pak qt mau on ki

  29. sheny said

    ini sangat bermanfaat , seharusnya sudah mulai dikembangan , bagus juga buat karya ilmiah :)

  30. iwan said

    tapi gimana caranya menanam singkong yang baik

  31. Elon said

    kami menjual cendawan (aspergillus sp) untuk pembuatan bioetanol dari bahan singkong.

    harga : Rp 75.000/kg

    pembelian minimal 10kg

    pembayaran : transfer bank

    email : elon_losman@yahoo.com

    Hp: 0857-6-234-6-999

  32. Kini bioetanol telah dipakai sebagian orang pada kompor gas tenaga biodiesel. Melihat gegap gempita kasus ledakan tabung gas lpg, telah menyadarkan masyarakat untuk kembali ke alam. Dalam arti kit mesti memakai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan bahaya.Dengan adanya berbagai pengembangan industri bioetanol,tentu masyarakat jadi lebih bersemangat untuk memanfaatkan bioetanol dalam kehidupan sehari hari. Saya mengucapkan terima kasih bila komentar ini dimua pada blog yang unik dan menarik ini. Salam kenal ya

  33. syahru said

    ehhmm…,,
    mana lah taq taw u tu,,
    heheh..

  34. kori said

    kalau hanya teori aq juga bisa

  35. kori said

    aq pengen buktinya pa bener ubi kayu bisa jadi bahan bakar?

  36. agus said

    ass… ibu..
    terima kasih atas infonya, benar2 bermanfaat, namun saya masih kurang jelas, terutama dalam proses pembuatan etanol berbahan dasar ubi kayu,,,, bisakah melengkapi artikel tsb dengan gambar2 sehingga bisa memperjelas dalam proses pembuatannya.
    untuk daerah jawa barat adakah alamat yg bisa saya hubungi untuk bertukar info tentang produksi, pemesaran bioetanol ini??
    terimakasih sebelumnya.

    wass..

  37. boleh juga d’coba!!!!!1

  38. Catur Andri Darmawan said

    Mohon maaf sebelumnya, saya Andri di Pontianak. saya punya lahan sekitar 300 ha. sayaingin mengembangkan lahan tersebut dg menanami ubi kayu. mohon penjelasan pemasarannya.

    • hans said

      Pak Andri, bisa menghubugi saya di 085269506864 atau 085769663737. Kami sedang mengembangkan industri berbahan baku ubi kayu di Pontianak dan menerima ubi kayu dari masyarakat dalam jumlah yang tidak terbatas.

  39. waralaba makanan…

    [...]UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LINGKUNGAN « Jurnal Isnani Murti[...]…

  40. x_boy said

    Saya punya lahan 2.239 Ha dikalteng apa ada yang bisa bantu saya untuk bersama-sama mengembangkan bisnis singkong ini sebab ini peluang

  41. koleksi buuku terbbaik untuk pendidikan tinggi…

    [...]UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LINGKUNGAN « Jurnal Isnani Murti[...]…

  42. Terima kasih infonya Ibu

  43. natural nusantara…

    [...]UBI KAYU (Mannihot esculenta) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PENGGANTI BENSIN (BIOETANOL) YANG RAMAH LINGKUNGAN « Jurnal Isnani Murti[...]…

  44. Muhammad Zaini said

    zeolit dari mana kita bisa dapatkan bu?

  45. ardi said

    assalamu’alaikum, bu sy blh minta daftar pustaka dari artikel ini..? terima kasih…

  46. [...] isnanimurti.wordpress.com [...]

  47. [...] isnanimurti.wordpress.com [...]

  48. kiozpulsa.com said

    bagaimana caranya menjadikan ubi kayu menjadi bahan bakar kendaraan???

  49. widia rara said

    asslmkm.. ibu.. boleh minta fto2 mesin atau alat2 yg digunakan pada tahap-tahap pembuatan bioetanol dr ubi kyu ini.. biar bisa mencontoh cara pembuatannya. saya tertarik ingin mencoba.
    email saya. widiararaamiati@ymail.com.
    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 260 other followers

%d bloggers like this: